Kepala SLB Cendana Rumbai
Menjadi guru adalah cita-cita dan mimpi saya yang terwujud menjadi kenyataan. Menjadi guru di Yayasan Pendidikan Cendana adalah Anugerah dari Allah SWT yang tak pernah terbayangkan sebelumnya karena setiap orang yang menjadi guru di Cendana, banyak rangkaian yang harus dijalani, mulai dari psycotes, wawancara, ujian praktik, dan tes kesehatan. Ditambah lagi penilaian pada masa egriment. Disebut anugerah karena Cendana harum namanya dan terkenal di mana-mana. Berstandar nasional dan bertaraf Internasional. Untuk menjunjung dan bernaung di bawah payung Cendana tentu kreativitas guru harus keluar dari TUSI (Tugas Pokok dan Fungsi melek Literas). Banyak yang bisa dikerjakan guru walaupun saat masa pandemi yang kita semua berharap stuasi ini cepat berlalu. seperti : membuat kumpulan LKPD, media dan model pembelajaran onlone, buku ajar dan lainnya. Tugas utama guru khususnya di SLB Cendana Rumbai yang dilaksanakan bersama adalah menanamkan nilai karakter moral kepada siswa tersayang yang mengalami hambatan penglihatan, pendengaran, berpikir, dan hambatan perilaku melalui pembiasaan, seperti: bisa melaksanakan ibadah, berbuat baik, jujur, sopan/santun, tidak berprilaku kasar, disiplin sesuai kompetensi sikap spritual dan sosial. Namun, itu saja belum cukup karena sebagai guru dari waktu ke waktu harus mampu berpikir kritis dan kreatif. Di sela-sela waktu setelah mengisi qolbu, guru perlu memikirkan what Should I do. Kata orang, banyak ide banyak kerja. Ini ada benarnya dan cara menyikapinya adalah dengan menjalin komunikasi dan berkolaborasi untuk mencapai hasil yang diharapkan. We will get Done. Itulah kepuasaan. Jika guru bisa melakukan upaya optimal untuk memberikan pelayanan unggul kepada siswa dengan pengetahuan dan keterampilan agar siswa bisa hidup mandiri maka Insya Allah predikat guru Cemerlang bisa dirasakan. Rezeki mengalir, karierpun menyertai. Seperti guru dalam tulisan ini. Ibu Dra. Sitti Syathariah, Guru Bahasa Indonesia di SMA Cendana Pekanbaru Riau. Beliau sangat suka menulis. Beberapa kali menjadi finalis dan memenangkan lomba karya tulis ilmiah guru baik di tingkat provinsi maupun nasional. Selain karya tulis ilmiah, ibu dari dua orang putra ini juga suka menulis sastra. beberapa kali puisinya menjadi yang terbaik dalam lomba nasional. Kompetensi menulis yang dimilikinya telah mengantarkannya memperoleh tiga anugerah di Riau seperti Anugerah Sagang, Anugerah Pendidikan Riau, dan Anugerah Baiduri. Guru Berprestasi Di Tingkat SMA Se-Pekanbaru dan finalis guru inklusi berprestasi tingkat nasional ini telah menerbitkan beberapa buku ber-ISBN seperti: Estafet Writing, Berpantun, Bersyair, dan Bergurindam Di Sekolah, Antologi Bersama (Anak Pencari Tuhan, Resonansi Serindit, Fiksi Mini, Pantun Pendidikan, Pantun Anak, Metamorfosis Rimba, Mari Menjadi Guru, Dan Haiku), Waktu Teduh, Desember, Hujan, dan Senja, Batu Lezat, Di Culik Pokemon, Batu Cinta, Pekerja Kasar Tanjung Luar, Jazirah, 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau. Karya sastra tunggalnya adalah Solitude (kumpulan puisi) dan Serpihan Luka (Kumpulan Cerpen), Dara Menumbai (Cerita Anak), Segara Sakti Rantau Bertuah (Kumpulan Puisi)dll. Seandainya saja 1 orang guru Cendana atau 1 orang siswa membeli satu karya bukunya.Bisa diitung berapa pundi-pundi uang sebagai tambahan Rezeki dari hasil berbagi pengalamannya? Belum lagi yang dibeli orang di luar sana serta hadiah perolehan atas Prestasi/ Rewad yang diperoleh dari YPC dan pemerintah. Selain itu, beliau juga mampu menjadi guru yang baik bagi siswanya, ibu yang baik bagi putra/putrinya, pendamping yang baik di keluarga, dan mampu menginspirasi teman-teman guru di lingkungnya.
Salam Literasi. Ayo membaca. # Salam Cendana # Salam. Pesan moral yang ingin penulis sampaikan sebelum memasuki masa Purna Bakti adalah: Jadilah guru yang Luar dari Biasanya, keluar dari TUSI, “Jadi guru Cemerlang,” kita semua bisa, Cendana Jaya. .
Sumber: web SMACP







